Semenjak kuliah perdana pascasarjana di UGM ini saya membuat komitmen untuk belajar dengan giat (ciee...#lho). Tidak lagi seperti saat kuliah di S-1 dulu yang penuh dengan canda dan main-main saja. Bahkan sering setelah kuliah bubar saya tak mengerti satupun materi yang sudah dosen berikan saking lelapnya di kelas, hal itu diperparah dengan malasnya saya belajar sendiri di kost.
Setelah saya identifikasi memang permasalahannya ada pada banyak hal : komitmen, fasilitas, manajemen waktu dan maksimalisasi belajar di dalam kelas.


Saya tidak ingin membahas banyak mengenai bagaimana caranya menciptakan komitmen, fasilitas dan memanajemen waktu yang baik kepada kamu. yang menarik bagi saya adalah maksimalisasi belajar didalam kelas.
kenapa harus maksimal ??
dulu waktu kuliah atau bahkan waktu SMA saya seringkali "gumun" (terheran2) dengan manusia-manusia yang berhasil mendapat nilai tertinggi sedangkan mereka rata-rata jarang belajar. Lho kok bisa???
bisa saja karena selain cerdas, mereka juga pandai memaksimalkan belajar saat di sekolah/kuliah.

hasil wawancara yang saya lakukan (busyet... kayak penelitian aja :P ) menunjukkan kalo ternyata mereka menghindari beberapa hal ketika didalam kelas, antara lain :

1. Tidak memulai dengan berdo'a
2. Berbicara tidak terkait dengan materi
3. Tidak bermain Handphone/ gadget
4. Tidak mencatat
5. Tidak bertanya

Mungkin setiap manusia memiliki karakterisitik yang berbeda-beda di dalam mengelola belajarnya di dalam kelas dan bisa menciptakan aturan-aturan sendiri. Semua intinya agar apa yang kita pelajari dalam setiap materi benar2 bisa dipahami secara komprehensif dan maksimal didalam aplikasinya.
semoga bermanfaat :-)

Jogja’s Local Newspapers
1. Bernas
Jl. IKIP - PGRI, Sonosewu
Yogyakarta 55162
Telp. (0274) 377599  Faks. (0274) 382201

2. Kedaulatan Rakyat
Jl. Pangeran Mangkubumi No. 40-42
Yogyakarta 55232
Telp. (0274) 565685  Faks. (0274) 563125
redaksi@kr.co.id

3. Radar Jogja
Jl. Kaliurang Km 5, Catur Tunggal
Yogyakarta
Telp. (0274) 588795  Faks. (0274) 562597

4. Harian Umum KOMPAS
Jl Palmerah Selatan 26-28 Jakarta Pusat 10270
Telp.(021)5302200, 5347710, 5347720, 5347730 Faks. (021) 5466085
PO Box 4612 Jakarta 12046
Jl Suroto 2A Kotabaru Yogyakarta  Telp (0274)563600
5. Harian Umum REPUBLIKA
Jl Warung Buncit Raya No. 37 Jakarta 12510
Telp. (021) 7800649, 780042 Faks.(021)7803747
Jl I Dewa Nyoman Oka 11 Kotabaru Yogyakarta Telp. (0274)581727
http://www.republika.co.id.


1.       Universitas Kristen Duta Wacana
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 5 – 25
Yogyakarta 55224
Telp. 0274 – 563929 Fax. 0274 – 513235
Email: humas@ukdw.ac.id

2.       Universitas Muhamadiyah Yogyakarta
Jl. Lingkar Selatan, Kasihan, Bantul,Daerah Istimewa Yogyakarta,

3.       Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta
Jalan Ringroad Selatan Km. 6,7 Blado Potorono Banguntapan Bantul DIY Tel./Fax. (0274) 6679944, 373022, 6995128 info@stikessuryaglobal.ac.id


Beberapa waktu yang lalu sekembalinya berbelanja saya sekeluarga pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan menarik ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Dialog antara polisi dan sopir taksi seperti ini.

Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir (Sop) : Baik Pak…

P : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak

P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar sambil lalu menulis dengan sigap di buku tilang)
Sop : Pak jangan ditilang deh…plat aslinya udah gak tau kemana… kalo ada pasti saya pasang

P : Sudah…saya tilang saja…banyak mobil curian sekarang (dengan nada keras!!)
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya pak , ini kan bukan mobil curian!

ada yang bilang buat paspor itu susah, ah... enga juga, iya juga.... binggung jawabnya. saya cuman mau jelasin aja kerja keras yang kemaren saya lalui untuk membuat nie paspor nakal (abisnya bikin kesel mulu)...

Untuk mengurus paspor pertama kali kamu harus tahu 2 hal : pertama, lokasi untuk mengurusnya. kedua, persyaratannya. itulah prinsip yang harus dipegang oleh warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan anti korupsi (weleeeh maksudnya..)

Pertama, Lokasi, tidak semua kota di Indonesia memiliki kantor Keimigrasian jadi anda harus mencari kantor keimigrasian terdekat dengan kota anda (tentunya bagi yang tinggal di desa atau kota yang tidak terlalu besar). misalnya saya, di Lumajang city lembah terpencil sekitar 154 KM arah tenggara surabaya berbatasan langsung dengan samudra hindia, tidak terdapat kantor imigrasi jadi saya harus merelakan pergi ke malang hanya untuk mengurus paspor.

Kedua, Syaratnya. Perbedaan orang berilmu ama enga' ternyata nyata banget ya terlihat (curhat nie..). sebelum berangakat saya g tahu sama sekali syaratnya alhasil apapun surat pentingnya saya bawa asli beserta kopiannya (akte kelahiran, ijazah, ktp, sim, berbagai jenis foto hitam putih dan bewarna, npwp orang tua, materai 6000 dll). padahal setelah disana syaratnya cuman Akte kelahiran/surat nikah , Ktp/sim , Kartu Keluarga dan bila anda pns/militer harus ada surat pengantar dari instansi. hanya itu ! baca selanjutnya>>>

Pernahkan anda memperhatikan sekeliling anda saat berkendara di jalan raya. Atau pernahkan anda termenung berfikir di lampu merah bersama tebalnya asap knalpot kendaraan bermotor dan teriknya sengatan sang surya (tentu yang dipikirkan adalah bukan mengenai kenapa ada lampu merah? Tetapi bagaimana perilaku pengguna jalan). Sebenarnya banyak hal unik dan dapat kita ambil pelajaran dari jalanan, kita ambil contoh lampu merah.

Persimpangan lampu merah adalah persimpangan yang menghubungkan jalan satu dengan jalan lainnya dengan lampu lalu lintas (traffic light) sebagai pengatur waktu jalan para pengguna jalan. Terdapat perbedaan antara persimpangan tanpa dan dengan lampu merah. Perbedaanya terletak hanya pada waktu dan kesabaran. Di persimpangan biasa kita boleh langsung belok atau lurus dengan hati-hati sesuka kita. Berbeda hal dengan persimpangan lampu merah. Kita harus sabar menunggu giliran untuk berjalan beberapa waktu lamannya.

Bila kita mau belajar, ternyata di tempat ini menyimpan banyak makna kehidupan. Masyarakat pengguna jalan yang berhenti di persimpangan lampu merah ini juga merupakan representatif masyarakat Indonesia, Jadi penilaian subyektif apa saja yang kita berikan boleh jadi berlaku juga untuk digeneralisasikan ke kehidupan nyata yang lebih luas. Ada curahan hati para anak jalanan yang ditumpahkan dalam syair nyanyian sederhana, ada loper koran yang dengan cerdasnya menjual dagangannya sambil berorasi sesuai headline yang ada di surat kabar tertentu, ada perilaku pengguna kendaraan bermotor yang menjengkelkan, dan sebagainnya.

laksana buih merpati menyebar
tuk menjemputmu dengan gelombang rasa gelisah cinta

merpatiku, kembalilah ke surga
kabar sudah kudengar jelas
semoga penciptamu mempertemukan aku denganmu disarang madumu kelak

usah bertanya ataupun berteka teki
menutup diri dengan tirai salju
yang tak bisa ditembus oleh manusia berhati beku
karena kekotoran hati
ataupun berhati panas karena kebodohan menilaimu
yang kan meruntuhkan istana keelokanmu

robinhood mu akan datang tapi tak menyelamatkanmu
tapi justru merekalah yang mencari jalannya sendiri
untuk diselamatkan dan diobati
hanya oleh putihnya qalbumu

jalan mana yang harus kami lalui?
berpijak pada bumi
atau bergelayut di langit

saat masa dimana kita berhasil sampai
kerinduan ini tlah pada puncak geloranya

senyum keramahan menyambut kami
cahaya wajahmu meronakan harapan
sinar matamu menerangi hati-hati kita yang tenggelam lama dalam kesunyian



Orang normal pada umumnya berbuat sesuatu pastilah ada maksudnya. Suatu bentuk kemustahilan orang berbuat tanpa tujuan yang jelas. Hanya ada dua orang yang berbuat apapun tanpa tujuan yang jelas, orang iseng dan orang gila. Meskipun orang iseng dapat dimasukkan pada klasifikasi orang normal tetapi keisengan akan menurunkan kredibilitas sebagaimana orang gila yang sudah mulai tak dipercaya orang. Maka berhati-hatilah terlalu sering iseng !
Tujuan perbuatan  yang dilakukan manusia ada bermacam-macam, sebut saja salah satunya bertindak karena orang lain. Tindakan yang kita lakukan akan bernilai positif hanya didepan orang yang kita tuju, tentu saja bila tindakan itu positif pula. Singkatnya penilaian orang lain adalah cermin perbuatan kita.
Berbeda halnya bila yang kita lakukan itu adalah karena suatu Dzat Yang Maha Mengenggam Jiwa. Perbuatan kita tidak hanya menjadi cermin datar yang memantulkan perbuatan kita secara sama persis. Bisa jadi perbuatan kita menjadi Cermin cembung yang memantulkan lebih besar bayangan yang ditangkap. Bahkan bisa menjadi sebuah kaca bening yang kita mampu menerawangnya hingga dalamnya kejernihan. Meski tak dipantulkan kaca yang jernih akan menciptakan kesan yang tenang.
Jika kita berbuat hanya untuk manusia sungguh kita akan mudah merasa jenuh dan lelah. Meskipun hal tersebut mendatangkan suatu kebanggaan dan kesenangan karena disanjung. Bahkan mungkin manusia dapat pula menilai negatif kerja dan usaha kita meski kita anggap itu hal yang positif dan maksimal yang dapat kita lakukan. Tak berarti apa-apa, tak ada yang menghargai …!! Marahlah kita, tapi sungguh disana terdapat pelajaran.
Perbuatan kita akan jauh lebih bermakna bila dilakukan dengan segenap hati mengharap ada yang menghargainya lebih dari manusia, yaitu Allah SWT. Karena kejernihan hati akan memberikan ketenangan dan kekuatan berlapis ikhlas. Entah ada yang memuji atau tidak perbuatan baik kita, tapi dengan enjoy kita yakin Tuhan tersenyum atas kebaikan kita dan ada Gift yang akan diberikan oleh Nya kelak. Allahu’alam bishawwab

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan! ‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Suatu malam saya menerima undangan malam persembahan angkatan baru di kampus. Awalnya, enggan sekali untuk datang memenuhi undangan tersebut. Tetapi, beberapa sms yang masuk seolah memaksa kedatanganku dan tak kuasa membendung rasa rindu ini pada dunia kampus. Dilema, itulah yang terjadi malam itu, antara senang dan sedih. Senang karena bisa melihat adek-adek kelas lepas tertawa dan bahagia tanpa beban, tapi sedih melihat diri sendiri yang terlalu cepat menjadi tua.
“Masa muda, masa yang berapi-api” begitu syair lagu bang haji rhoma irama, penyanyi berbakat sepanjang masa. Tahukah kawan, masa muda datangnya hanya sekali. Tetapi banyak orang yang membuang begitu saja kesempatan berlian ini, dan menggantinya dengan mandi dalam lumpur fatamorgana kehidupan. Pemuda tipe ini berdalih “mumpung masih muda” gunakan sesukamu.
Saya tidak mencela kegiatan senang-senang yang dilakukan anak muda, karena hal itu juga perlu didalam pengembangan kepribadian seseorang. Hal yang ditekankan disini lebih kepada tingkat kedewasaannya. Kedewasaan seseorang bisa diukur dari sikap mereka terhadap makna kehidupan.
Setiap dari perjalanan hidup ini mengandung makna yang dalam untuk dipelajari. Bahkan saat kita duduk di toilet sekalipun. Namun, naskah drama kehidupan yang dituliskan sempurna oleh Tuhan terlalu kita anggap remeh. Sebagian anak muda sepakat mengenai teori hidup itu masih panjang.
Saya beruntung sekali memiliki banyak tipe dari teman mulai dari yang paling alim dan taat hingga yang ekstrem mati karena overdosis narkoba. Perbedaan tipe itu adalah pelajaran untuk saya ambil hikmahnya (pesan Tuhan). Banyak pemuda yang hanya duduk-duduk di warung atau tempat nongkrong hanya untuk berbicara ngalor ngidul tak jelas. Ada pula yang terus menunda kelulusannya hanya karena takut statusnya menjadi pengangguran. Sungguh kasihan ! tapi itulah realitas, sulit dipaparkan pemahamannya dari otak ke otak.
Andai mahasiswa tahu kehidupan diluar adalah begitu kerasnya, mereka pasti menyesal. Tentu saja menyesal, karena tak pernah menempa diri di kampus sebelumnya. Ya, kampus adalah tempat yang paling ideal untuk menempa diri sebelum terjun ke palung kehidupan masyarakat nyata. Setidaknya 80% dari fresh graduated dari jurusanku adalah tak jelas profesinya saat ini. Termasuk aku, tapi aku bersyukur meskipun tak punya penghasilan tetap tapi tetap punya penghasilan.
Jadilah pelopor, jangan jadi pengekor. Tempa dirimu sekuat mungkin sebelum badai keras menyerat dalam lubang kebinasaan yang menghancurkan. Menyesal adalah kata yang tidak pernah ditemukan didalam kamus para pejuang kehidupan.